KETHOPRAK & KARAWITAN MI TARIS WINONG MERIAHKAN AKHIRUSSANAH

 


WINONG_22/06/24 – Panggung Haflah Akhirussanah Yayasan Tarbiyatul Islamiyah Winong bergema dengan gemuruh tepuk tangan. Sorotan utama acara tahunan tersebut adalah penampilan spektakuler grup kethoprak dan karawitan siswa-siswi MI Tarbiyatul Islamiyah Winong. Dengan membawakan lakon "Ajisaka Mberat Angkara", mereka sukses menghipnotis ratusan penonton yang terdiri dari wali murid, tokoh masyarakat, dan warga sekitar.

 

Lakon klasik yang mengisahkan kedatangan Prabu Ajisaka ke tanah Jawa untuk menumpas raja raksasa bernama Dewatacengkar, diangkat dengan apik. Meski dimainkan oleh para siswa, penampilan mereka terlihat matang dan penuh penghayatan. Dialog dalam bahasa Jawa yang jelas, blocking panggung yang tertata, serta tata rias dan busana yang berwarna-warni, berhasil membius penonton dari awal hingga akhir.

 

Yang tak kalah memukau adalah iringan langsung dari tim sanggar karawitan Pracimo Laras, siswa-siswi MI TARIS Winong. Dengan perangkat gamelan lengkap, Para siswa muda ini menghasilkan gending-gending pengiring yang dinamis, mengikuti alur cerita; dari suasana tegang pertempuran hingga adegan haru kedamaian. Kolaborasi antara pemain dan pengrawit menunjukkan harmonisasi dan kekompakan yang luar biasa.

 

Kepala MI Tarbiyatul Islamiyah Winong, Bapak Joko Siswanto, S.Pd.I., menyampaikan kebanggaan yang mendalam. "Ini lebih dari sekadar pentas. Ini adalah wujud nyata pelestarian budaya Jawa sekaligus pendidikan karakter. Melalui lakon Ajisaka, anak-anak tidak hanya belajar berkesenian, tetapi juga internalisasi nilai-nilai luhur: kecerdasan, keberanian, dan tekad membasmi 'angkara murka' atau sifat buruk dalam diri," ujarnya.

 

Salah satu penonton, Ibu Ema, wali murid, mengaku tak menyangka penampilan akan sehebat ini. "Luar biasa. Dari anak-anak kita sendiri, bisa melihat cerita leluhur dipentaskan dengan sangat bagus. Mereka sangat percaya diri. Senang sekali melihat generasi muda masih akrab dengan wayang dan kethoprak," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Proses persiapan yang intensif selama 1 bulan di bawah bimbingan guru seni dan seniman lokal pun membuahkan hasil gemilang. Pentas ini menjadi bukti bahwa pendidikan di MI Tarbiyatul Islamiyah Winong tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga mengembangkan talenta dan menanamkan cinta budaya bangsa.

 

Dengan ditutupnya tirai panggung dan disambut standing applause, pentas kethoprak ini telah meninggalkan kesan mendalam. Bukan hanya sebagai hiburan dalam haflah, melainkan sebagai sebuah pernyataan bahwa warisan budaya adiluhung tetap hidup dan relevan, digelorakan oleh generasi penerus dari madrasah.(ASF)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

PELATIHAN WEB-BASED PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

Maulana Malik Ibrahim (#BukaTutup)